Multivendor atau singlevendor

Semakin banyaknya software dan hardware dengan derbagai kualitas dari berbagai macam vendor membuat konsumen harus memilih vendor mana yang cocok dengan perusahaan mereka.  Apakah mereka akan menentukan vendor mana yang akan digunakan dalam sistemnya dengan cara multivendor atau single vendor?

Baik strategi multivendor maupun single vendor memiliki kelebihan.  Menurut Chandra Kopparapu [2] keuntungan multi vendor : memberi kebebasan kepada konsumen untuk memilih infrastruktur jaringan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan, fleksibel terhadap inovasi perusahaan, mengurangi resiko dan biaya karena ketergantungan terhadap satu vendor,  dan perusahaan dapat mengambil keputusannya sendiri tanpa campur tangan dari vendor.

Menurut sumber yang lain [1], alasan memilih multi vendor : adanya merger antara dua perusahaan yang sebelumnya menggunakan peralatan yang berbeda pada proses datanya, dipelukan beberapa tipe untuk menyatukannya. Untuk organisasi yang besar (atau pemerintah), masing-masing bagian memiliki peralatan yang unik dengan keperluan yang berbeda pula. Ketika terjadi pergantian vendor, mereka tidak akan memutuskan komunikasi dengan cepat. Banyak pergantian vendor memerlukan proses paralel antara dua sistem yang berbeda. Ketika aplikasi baru diimplementasikan pada sistem komputer, multivendor akan menyesuaikan dengan kebutuhan perusahaan penggunanya. Pengelolaan informasi, banyak sistem komputer memiliki komponen software dan hardware khusus, perusahaan biasanya menggunakan peralatan teknis yang khusus. Peralihan perusahaan dari mainframe ke client/server yang terbagi tidak selalu membuang begitu saja mainframenya. Mainframe bisa digunakan sebagai server pada jaringan client/server atau repositori data.

Menurut Cisco [3],  keuntungan dari single vendor : keterbatasan kompleksitas dalam pengelolaan jaringan. Selain itu, dengan hanya menggunakan architecture dari satu vendor waktu rata-rata yang digunakan untuk perbaikan bisa minimal. Dengan adanya satu pusat technical support akan mempermudah koordinasi dalam menyelesaikan masalah, mengurangi terjadinya miskomunikasi, menyelesaikan masalah dengan banyak pendapat dan lainnya. Dengan strategi single vendor tidak diperlukan biaya untuk melatih teknisi pada dua architecture yang berbeda sehingga bisa meminimalkan biaya operasional. Perusahaan akan lebih cepat mengadopsi inovasi dalam hal kemampuan untuk menyerap inovasi untuk kompetisi dan level tertinggi pada kemampuan service untuk feature yang dihasilkan dari architecture single vendor. Protokol yang biasa digunakan seperti OSPF, BGP, dan BFD dapat mengalami kerugian dari implementasi berbeda pada keadaan tidak biasanya, bahkan pada keadaan normal. Dengan implementasi single vendor , akan menyediakan kemampuan level tertinggi dibandingkan dengan multi vendor. Implementasi dari multivendor dapat menurunkan kemampuan dalam penyelesaian masalah kerentanan, khususnya tidak semua vendor mempublikasikan kerentanan dan penyelesaian secara terbuka.

Keuntungan single vendor juga dikemukakan oleh Matt Stansberry [4]. Menurutnya keuntungan dari single vendor yang terstandar : memerlukan IT staff dengan skill set yang lebih sedikit; biaya staff murah karena ketersediaannya melimpah, standarisasi mengijinkan perusahaan untuk bekerja dengan sedikit vendor, hardware, perawatan dan biayanlisensi; mengurangi biaya penyatuan multiple teknologi dengan merurangi midleware; dan mudah untuk meramalkan siklus refresh hardware.

Dari studi literatur tersebut penulis setuju dengan penggunaan multivendor. Penulis setuju bahwa dengan sistem multivendor perusahaan diberikan kebebasan untuk memilih sistem mana yang paling sesuai dengan karakteristik kebutuhannya, dan mereka dapat mengelolanya secara independent. Dilihat dari segi konsumen, multivendor cocok untuk perusahaan dengan skala besar (atau pemerintahan) karena biasanya perusahaan terdiri dari sub bagian yang berbeda dengan keperluan infrastruktur jaringan yang berbeda pula. Keuntungan dari single vendor yaitu tidak terjadi miskomunikasi bila terjadi masalah, pada sistem multi vendor ini bisa diantisipasi dengan pemakaian vendor yang mempunyai kaitan yang baik dan tidak memakai terlalu banyak vendor.

Daftar Pustaka

[1] Anonim. “Managing multivendor  networks”.  [Online]. URL:http://docs.rinet.ru/MuNet/ch01.htm. [Tanggal akses:19 September  2008]

[2] Chandra Kopparapu. ”Multi-vendor Strategy”. Feb. 9, 2008 [Online]. URL: http://voicendata.ciol.com/content/NetworkingPlus/108020902.asp. [Tanggal akses : 16 September 2008]

[3] Cisco. “Risk mitigation : a strategy for reducing risk through a single-vendor integrated network”. http://www.cisco.com/en/US/prod/collateral/switches/ps5718/ps708/ps713/

prod_white_paper0900aecd806db80d.html. [Tanggal akses : 19 September 2008]

[4] Matt Stansberry. ”Perils and plusses of a single-vendor infrastructure”. Jul.25,2005 [Online]. URL: http://searchwinit.techtarget.com/news/article/0,289142,sid1_gci1111012,00.html. [Tanggal akses:19 September 2008]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.